Friday, July 27, 2012

Perkembangan Emosional pada Anak

Emosi memainkan peran penting dalam kehidupan manusia. Setiap bentuk emosi pada dasarnya membuat hidup lebih menyenangkan, karena anak emosilah akan merasakan getaran perasaan dalam dirinya dan orang lain.


Sejak bayi lahir, emosinya berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan orang tua mereka, dan juga dengan orang lain di lingkungan mereka. Bulan-bulan dan tahun-tahun pertama kehidupan anak adalah masa penting dan rentan dalam perkembangan emosional anak. Jika orang tua kurang menyadari pentingnya hubungan dan kualtias sikap mencintai selama ini, anak mungkin mengalami berbagai masalah dan gangguan emosi yang serius di masa depan. Sebaliknya, jika kebutuhan emosional anak terpenuhi secara seimbang di awal. Kehidupan, nanti ia akan berkembang menjadi individu yang bahagia dan diharapkan untuk mewujudkan potensinya secara optimal. Salah satu penyebab emosi pada anak meliputi afektif, bias afektif secara awam juga disebut kasih sayang. Kasih sayang adalah perasaan kehangatan, rasa persahabatan dan simpati ditujukan pada orang lain. Biasanya anak-anak senang pada mereka yang juga menyukainya. Bias afektif juga ditujukan pada hewan atau benda. Hal ini terkadang terjadi sebagai pengganti kasih sayang terhadap orang lain. Setiap orang memiliki kebutuhan untuk anggota untuk mendapatkan aefeksi. Ketika sebagian penging dalam pemenuhan kasih sayang kebuhan adalan di masa kecil. Ketika kedua orang tua meninggal, kebutuhan afektif mungkin tidak terpenuhi. Kekurangan afektif juga terjadi, jika orang tua menolak anak.
Sebaliknya, anak-anak yang menolak orang tua mereka, apakah karena malu atau menganggap orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhnannya, juga dapat mengakibatkan kurangnya kasih sayang. Oleh karena itu, penolakan terhadap anak yang menyebabkan anak-orangtua hubungan menjadi tegang dan menghalangi orangtua untuk memberikan kasih sayang. Penelitian menunjukkan kurangnya kasih sayang pada masa bayi dan anak-anak bisa membahayakan perkembangan mereka. Bias dalam bentuk gangguan tersebut: Perkembangan fisik terlambat, Keterlambatan perkembangan motorik, seperti duduk, berdiri dan berjalan, Gagap atau tuna wicara, Kesulitan berkonsentrasi dan mudah  terganggu, Sulit untuk belajar bagaimana membangun hubungan dengan orang lain, Mereka sering tampil agresif dan nakal, Kurangnya minat pada orang lain, menarik diri, egois dan menuntut. Tingkat ini dapat mengakibatkan  gangguan mental parah.

Kurangnya kasih sayang memang bisa mengganggu penyesuaian dan perkembangan sosial anak, tapi itu tidak berarti bahwa kasih sayang yang berlebihan akan menjadi individu yang lebih baik memiliki kasih sayang terlalu banyak akan kesulitan mengalalami dalam penyesuaian. Sayang terlalu banyak dari orang tua juga memiliki efek lain, bahwa anak-anak cenderung berkonsentrasi kasih sayang pada satu atau dua orang. Ini berbahaya karena anak akan merasa tidak aman dan cemas ketika orang itu tidak ada.


Monday, October 17, 2011

Perkembangan Motorik pada Anak


Proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak disebut perkembangan motorik. Secara umum, perkembangan motorik bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu motorik kasar dan motorik halus.

Keterampilan motorik ini pada dasarnya berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot. Sehingga dapat dikatakan, setiap gerakan yang dilakukan seorang anak. 

Sesederhana apapun sebenarnya merupakan hasil pola interakasi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak, karena proses kematangan masing-masing anak tidak selalu sama,   maka lalu perkembangan antara anak satu dengan yang lainnya bisa saja berbeda. Ada anak yang sudah bisa berjalan ketika usianya 10 bulan, misalnya, sementara anak lain di usia 13 bulan.

Masa lima tahun pertama adalah masa emas bagi perkembangan motorik anak. Hal itu disebabkan pada usia ini badan anak masih begitu lentur dan mudah diarahkan. Ditambah dengan kesenangannya bereksplorasi dan seperti tak mengnel rasa takut, maka segala gerakan yang diajarkan pada anak akan dianggapnya sebagai satu permainan yang menyenangkan.

Berbagai manfaat bisa diperoleh anak ketika ia semakin terampil menguasai gerakan motoriknya. Selain kondisi badan juga semakin sehat karena anak banyak bergerak, ia juga jadi lebih mandiri dan percara diri. Anak semakin yakin dalam mengerjakan segala sesuatu karena sadar akan kemampuan fisiknya. Anak-anak yang baik perkembangan motoriknya, biasanya juga mempunyai keterampilan social positif. Mereka akan senang bermain bersama teman-temannya karena dapat mengimbangi gerak teman sebaya, seperti berlompat-lompatan dan berkejar-kajaran.

 Salah satu keterampilan motorik yang paling jelas menandai munculnya kemandirian seorang anak adalah berjalan. Kini, anak dapat pergi ke mana saja mereka suka tanpa perlu bantuan atau bimbingan Anda. Umunya, di usia 10-12 bulan, bayi sudah mulai bisa berjalan, sekalipun ada beberapa bayi yang baru bisa berjalan di usia 16 bulan. Ini tidak berarti bayi yang bisa cepat berjalan lebih pandai dari pada bayi yang relatif lebih lambat barjalan. Setiap anak pada dasarnya memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Sehingga bisa saja anak yang lambat berjalan, lebih cepat dalam perkembangan bicaranya.

Sebelum berjalan, sebenarnya bayi sudah melewati proses latihan yang cukup panjang. Dimulai ketika ia belajar mengangkat kepala dalam posisi tengkurap untuk melatih saraf serta otot-otot leher dan perut. Kemudian dilengkapi dengan latihan otot kaki ketika ia belajar merangkak.
Biasanya bayi mengawali aktivitas berjalannya dengan cara merambat, berpegangan pada perabot rumah tangga. Bila rasa percaya diri untuk melangkah bebas mulai mucul, ia mencoba menguasai keseimbangan tubuhnya dengan membuat satu-dua langkah pendek. Mulanya, tentu saja bayi akan mengalami jatuh bangun karena belum bisa menguasai keseimbangan. Sampai akhirnya ia dapat melangkah dan berjalan dengan tegap.

Beberapa orang tua merangsang bayinya berjalan dengan bantuan alat bantu, seperti kursi beroda. Alat ini pada dasarnya melatih kaki bayi untuk melangkah, di samping mengatur keseimbangan badannya. Dengan alat bantu, umumnya bayi merasa lebih aman, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan kepercayaan dirinya untuk belajar berjalan.

Namun, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa alat bantu akan mengurangi bahkan menghentikan kegiatan merangkak yang merupakan kreativitas penting bagi perkembangan motorik.

 Lepas dari kedua pendapat di atas, dengan atau tanpa alat bantu, yang perlu diingat orang tua adalah jangan memaksa anak untuk berjalan sebelum ia memiliki kesiapan baik secara fisik maupun psikologis. Paksaan hanya membuat anak tertekan dan malas berlatih. Sebenarnya ruang gerak yang luas dan kepercayaan Anda adalah bantuan yang sangat didambakan anak.